LIKE FANPAGE FB YANG BARU KLIK DISINI Namanya Penyegar Timeline Malam atau cari @segarmalamceria

Tempat nonton bokep indo, bokep china, bokep barat, bokep waria, komik hentai, onlyfans leaks dan mulai dari cewek ABG sampe tante-tante, semua ada disini

Mamanya Teman Baikku

“Lo nginep aja di rumah gue.”

Ajakan itu adalah awal di mana keperjakaanku terenggut. Aku yang masih bau kencur ini, suatu hari akhirnya menginap di rumah teman sekelasku karena aku bosan ditinggal sendirian di rumah.

Orangtuaku sudah bercerai sekitar tiga tahun lalu, dan semenjak itu ayahku mulai sibuk bekerja. Terkadang dia membawa teman kencannya pulang, namun tidak ada yang bertahan lebih dari enam bulan. Pasti berat berpacaran dengan duda yang memiliki anak berusia lima belas tahun.

“Jam lima sore nanti gue jemput bareng nyokap gue ke rumah lo.”

“Nggak apa, nih?” aku memastikan. Aku berteman dengan Rehan sejak kami duduk bersama di kelas sepuluh. Kira-kira sudah delapan bulan lamanya. Dia teman yang baik dan pintar. Kisah hidupnya hampir sama denganku, mungkin itu juga yang membuatku merasa dekat dengannya.

“Santailah! Nyokap gue pasti demen rumah jadi rame.” Rehan tinggal hanya berdua dengan ibunya, sementara kedua adik perempuannya ikut dengan ayahnya. Orangtuanya juga berpisah sejak setahun yang lalu.

Dengan kesepakatan itu, aku menunggu Rehan dan ibunya datang ke rumah untuk menjemputku. Ayahku berkali-kali memperingatkan agar aku berperilaku sopan di rumah orang lain nanti.

Ketika akhirnya sebuah mobil berhenti di depan pagar rumahku, aku keluar sambil menggendong tas ransel besar. Rencananya, aku akan menginap selama lima hari di sana.

Mataku membelalak saat seorang wanita turun dari bangku kemudi. Parasnya amat cantik dengan bibir semerah delima. Tampak segar menggiurkan. Tubuhnya hanya ditutupi tank top berwarna hitam dan hot pants. Aku dapat menikmati kulit putih mulusnya dengan gratis. Dadanya yang gempal bergoyang saat ia menutup pintu mobil. Beberapa saat kemudian, Rehan ikut turun dari mobil.

“Yuk!” Rehan melambai. Aku menghampiri mereka sambil tetap menjaga agar mataku tidak jelalatan. Begitu aku masuk ke dalam mobil, Rehan kembali memulai percakapan. “Mah, dia Tomi, teman sebangkuku.”

“Tomi, baik-baik sama Rehan, ya! Kalau dia bandel, lapor aja ke Mamah!”

“I-iya, Tante.”

“Hush! Jangan panggil gitu. Panggil ‘Mamah’ aja.”

Aku sempat melirik ke arah Rehan yang cuma nyengir. Mungkin tipe ibunya memang easy going. Aku penasaran, kenapa orangtuanya sampai bercerai, padahal sepertinya dia memiliki ibu yang asyik dan cantik.

***

Aku terbangun terlalu pagi hari ini. Aneh rasanya tidur di kasur yang bukan kasurku, meski Rehan memiliki kasur terempuk yang pernah aku rasakan. Aku pergi ke dapur untuk mengambil air minum sebelum ke toilet.

“Pagi, Tom!”

Aku berbalik saat mendengar sapaan itu. Mamah tengah berdiri di dekat meja makan sambil menuangkan susu ke dalam gelas. Aku mematung melihat Mamah hanya menggunakan bra dan hot pants. Bagian bawahku bereaksi dengan cepat. “Pagi, Mah! A-aku mau ke toilet,” jawabku dan langsung kabur.

Aku cepat-cepat mengeluarkan penisku agar bisa langsung kencing. Tapi malah tertahan. Ternyata milikku berdiri karena hal lain. Tanpa sadar, tanganku mengelus penisku sendiri. Pikiranku melayang pada tubuh eksotis Mamah. Tidak pernah aku setertarik ini dengan tubuh lawan jenis.

“Tom, kok lama?” Mamah mengetuk pintu kamar mandi. Aku kaget, namun penisku masih tegak berdiri. Kalaupun aku memuaskan diri dengan tanganku, ini perlu waktu lama. “Tom, kamu nggak apa? Mau Mamah bantu?”

Aku bingung. Bantu apa maksud Mamah. “Tunggu bentar, Mah! A-aku mau buang air besar,” dustaku.

“Oooh, gitu.. Ya sudah, Mamah tunggu di meja makan, ya?”

“Iya, Mah!” Aku diam, memastikan tidak ada suara Mamah lagi di depan pintu kamar mandi. Tanganku bergerak cepat mengocok alat kelaminku, sementara mataku terpejam, membayangkan lekuk tubuh Mamah yang menggiurkan. Aku ingin menjilat dan menyedot payudara Mamah yang montok.

“Hhh..” Aku membayangkan pantat Mamah yang bahenol. Bagaimana, ya, rasanya bila aku meremasnya? Aku juga ingin menjilati vaginanya. Mamah cantik dan wangi. Pasti vaginanya juga enak untuk dinikmati. “Aahhh, Maaah..” bisikku pelan.

“Ya, Tom?” Mamah tiba-tiba membuka pintu kamar mandi. Astaga, aku lupa mengunci pintunya. Matanya langsung tertuju pada penisku yang tidak mau diajak kerjasama dan tetap tegak menjulang.

“Maaf, Mah! A-aku nggak maksud bu-“

“Duh, kalau cuma ini, Mamah bisa bantu,” potong Mamah. Dia menutup pintu dibelakangnya, lalu bersimpuh di hadapanku. Mulutnya mulai menjilat penisku. Lidahnya terasa hangat saat menyentuh kepala penisku. Rasanya luar biasa. “Enyak?” tanya Mama dengan mulut penuh.

Aku mengangguk saja. Tidak tahu kenapa, aku malah berkonsentrasi agar tidak mencapai klimaks secara cepat. Aku mau Mamah memainkan penisku lebih lama lagi.

Alat vitalku keluar-masuk di mulut Mamah berirama. Payudara Mamah yang bergoyang membuat tanganku gatal. Reflek, aku sedikit membungkuk dan meremas payudaranya. “Hmmm,” erang Mamah, namun tetap melakukan blow job dengan baik.

Saat aku berhasil membuka branya, aku tidak dapat menahan hawa nafsuku lagi. Aku menarik tangan Mamah hingga ia berdiri, lalu menyesap putingnya penuh gairah. Ternyata nikmat sekali. Mamah mengelus tengkukku dengan lembut. “Hhh, pinter kamu, ya!” pujinya. “Hah.. Aaahh.. Hisap lebih keras lagi, Tom!”

Aku menuruti kemauannya. Berniat memberinya kenikmatan lebih, aku meremas pantatnya, membuat imajinasiku menjadi kenyataan.

“Tom.. Masukin tangan kamu, hah.. Aahh..”

Aku melepas hot pants-nya. Perlahan, aku memasukkan jariku ke dalam vaginanya. Tanpa aku duga, ternyata aku tahu apa yang harus aku lakukan. Mamah mendesah nikmat setiap kali aku menggerakkan jari-jariku.

“Hah! Ah, ah, hah! Jago kamu, Tom-Haaaaa!” Pujian Mamah membuatku makin percaya diri. Aku semakin bersemangat dan bermain lebih keras. Mama mengelijang, cairan hangat lumer di tanganku. “Jilat, Tom!”

Dengan cepat aku mencium vagina Mamah. Akhirnya aku bisa merasakan gurihnya cara vagina Mamah. Lidahku bermain intens, membuat Mamah menjerit-jerit kecil.

“Tom, aaah! Masukin punya kamu ke sana, Tom! Hah, aah, aaah!”

Libidoku memuncak. Aku berdiri dan membuat Mama memunggungiku. Tanpa permisi, aku langsung memasukkan penisku ke vaginanya. Rasanya enak saat aku menggesek liang vaginanya. “Tom! Ah, ah! Ban-ah! Bandel kamu, ah! Hah! Haah, aakh!”

“Maaf, Mah! Aku nggak kuat! Punya Mamah enak banget!”

“Pe-pelan, Tom! Ah! Nanti Mamah cepat keluar, hah, hah, ah!”

Aku makin menjadi. Gerakanku semakin memanas. Penisku terasa perih, mungkin karena ini pertama kalinya aku memasukkannya ke dalam vagina. Tapi itu tidak menjadi masalah. Kenikmatan yang aku rasakan melebihi akal sehatku. Aku bahkan tidak peduli kalau Mamah adalah ibu temanku.

Aku meremas payudaranya sekeras yang aku bisa. Mamah menjerit lagi, lalu badannya bergetar hebat. Aku dapat merasakan cairan hangat kembali lumer dari vaginanya.

Belum puas, aku kembali menyodoknya dari belakang. “Tom-ah! Hah! Punyamu-ah, enak! Mamah nggak kuat-hah! Ah!”

“Boleh keluar di dalam, Mah?”

“Boleh, hah.. Keluarin aja!”

Aku mendudukkan Mamah di atas kloset, kemudian kembali menyetubuhinya. Mataku tetap terbuka, ingin mengingat dengan jelas wajah Mamah yang keenakan saat ini. Aku cium bibirnya penuh nafsu. Mamah membalas dengan memainkan lidahnya.

“Aku keluar, Mah!” aku mempercepat gerakanku.

“Hah! Ah, Tom! Enak! Hah! Terus-hah, hah, ah, ah! Aaaah!” Mamah mencengkram tanganku, seakan tidak mau penisku sampai lepas dari organ intimnya.

Aku menyemprotkan air maniku di dalam vagina Mamah. “Uuuhh.. Hangat banget mani kamu, Tom.. Ahhh.. Enak..”

Mamah membungkuk, membersihkan sisa sperma yang ada di penisku dengan mulutnya. “Perih?” tanyanya, melihat kepala penisku yang memerah.

Aku menggeleng saja. “Mah, aku mau lagi.”

Mamah tersenyum menggoda padaku. “Pulang sekolah nanti, ya?”

TAMAT

BOKEP INDO TERBARU

guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x