LIKE FANPAGE FB YANG BARU KLIK DISINI Namanya Penyegar Timeline Malam atau cari @segarmalamceria

Tempat nonton bokep indo, bokep china, bokep barat, bokep waria, komik hentai, onlyfans leaks dan mulai dari cewek ABG sampe tante-tante, semua ada disini

Tante Cindy Tersayang

Perkenalkan. Nama aku Salim. Usia 22 tahun dan seorang keturunan (no sara). Ibu aku seorang janda dan karena sudah tidak memiliki ayah, ibuku bekerja alias berjualan kue. Untungnya kue ibuku sangat laris dan banyak yang membeli. Keuangan memang masih dibilang cukup tapi tidak bisa sekaya dulu lagi sejak ayahku telah tiada.

Usia ibuku sudah 48 tahun. Waktu muda, banyak pria pria yang mengejar ibuku karena dia memang sangat cantik tapi semua ditolak karena cinta ibuku tidak unik lelaki lain dan hatinya sudah tertutup. Suatu sore, aku disuruh ibuku mengantar pesanan ke rumah teman nya, ibu Cindy yang tinggal di kawasan Sunter.

Lokasi rumah ibu Cindy memang dekat dari tempat tinggal aku yang kebetulan ada di Ancol. Pembaca yang tinggal di daerah sana pasti tahu kalau lokasi kedua tempat tidak begitu jauh. Alhasil, 2 kotak kue pesanan ibu Cindy segera aku antar dengan mobil. Singkat kata, aku tiba di rumah pihak yang bersangkutan.

Aku bukan pertama kali ke sini tapi inilah pertama kali aku berjumpa langsung dengan ibu Cindy. Siapa yang sangka usia ibu Lestari masih muda… ya tidak juga… 40 tahun. Cantik? Jangan ditanya. Tubuhnya masih langsing dan kulit putih mulus khas oriental.

“Oh ini anaknya Sylvia, yang suka mengantar kue ke sini. Masuk dek. Baru pertama kali tante ketemu kamu.”

“Baik tante.”

Aku akhirnya masuk ke rumah yang termasuk lumayan itu. Menolak juga tidak enak. Dikira sombong. Nanti perkara. Ngadu yang nggak” ke ibu aku. Jadi ya cari aman saja. Kalau ditanya kenapa lama oleh ibuku, ya bilang saja diajak masuk ke rumah oleh teman ibuku. Perkara selesai. Toh tidak ada perintah lain selain mengantar ke rumah ibu Cindy.

“Ternyata kamu yang suka mengantar kue ke sini. Nama kamu siapa dek?”

“Nama saya Salim, tante.”

“Umur kamu?”

“22 tahun, tante.”
“Wah masih muda. Ganteng. Beruntung nya temen tante ada anak ganteng kayak kamu. Penurut dan taat. Sekolah nya pintar. Kamu lagi kuliah kan?”

“Iya tante. Makasih tante. Saya jadi malu ah tante ngomong gitu ke saya.”

“Ah kamu tuh. Kamu memang ganteng. Anak tante semua cewek. 2 sudah nikah. 1 nya belum. Masih gadis. Umur nya juga Baru 20 tahun. Cuma jarang ke rumah. Dia tinggal sama sepupu nya di Karawaci. Kan kuliah di sana. Anak kedokteran. Seminggu sekali ke sini dia.”

“Oh anak tante perempuan semua. Lah mama saya malah mau anak perempuan tapi papa sudah gak ada.”

“Iya. Papa kamu baik loh orangnya. Kamu mirip sama mendiang papa kamu. Eh dek, kamu kuliah fakultas apa?”

“Teknik sipil, tante.”

“Wah hebat. Nah ini foto anak tante yang masih gadis. Tuh, cantik kan?”

“Eh iya tante. Cantik. Mirip banget sama tante. Suami tante sedang kerja?”

“Suami tante mah gak tau ke mana. Kan tante sudah cerai 10 tahun lalu.”

“Maaf tante. Saya gak tahu. Baik tante. Saya permisi dulu ya. Selamat siang, tante.”

“Mari dek. Kapan kapan ke sini saja ya. Main. Hehehe.”

Dan aku pulang ke rumah. Benar dugaan aku. Ibuku bertanya, ” nak. Lama bener di rumah temen mama.”

“Diajak ngobrol sama si tante Cindy. Masak menolak. Dikira gak sopan. Orang nya baik loh ma. Ramah. Dia cerita tentang anak anaknya. 2 dah nikah. 1 masih kuliah fakultas kedokteran.”

“Mama tahu, nak. Cantik orangnya. Sayang saja mantan suaminya brengsek. Suka main cewek. Ketahuan. Cerai. Hartanya bagi 2. Tahu tuh kabar mantan suaminya gimana. Lelaki gak tahu diri.”

Aku memang sedang tidak ada kuliah saat itu. Kalau ada kuliah, aku tetap mengirim kue tapi di sore hari. Pokoknya kue kue buatan ibu aku harus dikirim di hari yang sama. Kadang kalau sedang hari raya, entah natal atau lebaran, pesanan bisa sangat banyak. Kadang sampai 100 kotak. Memang sudah rejeki.

Besoknya aku kuliah dan pulang jam 2 sore atau siang. Suka suka pembaca saja. Sampai di rumah, lagi lagi tante Cindy memesan 3 kotak kue. “Ma. Perasaan kemarin si tante baru beli. Masak habis nya cepet bener.”

“Temen temen tante Cindy lagi main ke sana. Mereka suka kue nya. Eh tiba tiba habis. Ya udah. Pesan lagi. Nih. Bawa ke sana.”

Dan pergilah aku ke sana. Memang benar, ada 3 teman tante Cindy di sana. Mereka semua cantik cantik ala wanita berduit alias nyonya besar sosialita. Aku sampai di sana disambut bagaikan pahlawan. Jelas saja. Sumber kebahagiaan mereka alias kue pesanan mereka telah tiba. “Dasar panting celamitan ” kataku dalam hati.

Mana berani aku berkata seperti itu di depan mereka. Toh mereka bayar ini. Ada uang ada barang. Perkara selesai. “Pahlawan kita telah tiba” kata tante Cindy.

“Ah tante. Cuma kue. Masak jadi pahlawan. Malu ah tante. Saya dipuja puji terus dari kemarin.”

“Wah ganteng ya yang ngirim. Anak temen kamu nih Cin? Ganteng bener.” Kata salah 1 teman tante Cindy yang penampilan nya kayak orang banyak belum seperti atlet mma yang baru dihajar telak.
“Ganteng loh. Manis orang nya. Kalau saya masih muda, saya mau nikah sama cowok ini. Nak. Siapa nama kamu?” Tanya teman nya yang 1 lagi yang agak gendut dan bawel. “Kayaknya ini yang makan semua kue si tante. Pantes sekali pesan sampai 3 kotak. Diabetes sudah menyambut dengan pelukam hangat nih.” Kataku dalam hati.

“Salim, tante. Apa kabar, tante?” Tanyaku dengan ramah sambil tersenyum.

“Oh duduk nak. Bosan di sini. Gak ada lelaki. Kamu temani kami ngobrol ya. Denger denger aja. Siapa tahu kamu bisa belajar banyak dari kami.” Kata si tante gendut itu.

“Belajar apa? Makan rakus? Kena diabetes? Ampun deh. Rasanya kayak gigolo aja di sini. Lama lama disuruh nari telanjang.” Kataku dalam hati.

Mereka mulai ngobrol sendiri dan aku diam bagaikan idiot yang tak tahu harus bagaimana sampai tante Cindy mulai cerita tentang mantan suaminya.

“Bingung aku tuh. Mantan suami aku brengsek. Main jablay tiap hari. Pas ditanya dari mana, jawabnya ada rapat lah, macet lah. Aku curiga, aku ikutin dia. Eh berakhir di tempat gituan. Sampai satpam nya saja hafal dan kenal dia. Memalukan bener.” Keluh si tante Cindy.

“Memang tuh sis. Brengsek mantan suami kamu. Gak malu apa dia? Anak cewek semua. Untung kedua anak kamu dah nikah dan bahagia.” Kata tante gendut tadi.

“Tante. Maaf. Bukan mau ikut campur. Saya cuma mau bilang saja kalau kita sebagai umat manusia, tidak bisa membuat semua orang bahagia. Kita bukan es krim. Terkadang semua sudah kita lakukan tapi orang lain tetap tidak senang, artinya kesalahan bukan di kita tapi di mereka. Berbuat baik tapi tetap dianggap penjahat, itu bukan salah kita. Kalau kita tidak pernah berbuat salah, tapi dibenci dan dikhianati seperti kasus tante, maaf ngomong saja tante, mantan suami tante memang tidak tahu diri dan gak bisa bersyukur saja. Kalau saya jadi suami tante, yang ada mah saya sayang sayang terus. Tante cantik dan baik. Bisa mendidik dan membesarkan anak anak tante. Kurang di mana lagi coba? Itulah hidup, tante. Maaf ya kalau saya lancang bicara seperti ini, tante.”
Alhasil? Semua wanita dewasa di sana melotot, ya gak melotot, cuma menatap aku dengan decak kagum. ” Wah. Udah ganteng, bijak pula. Menantu idaman nih.” Kata si tante yang dandan an gak karuan itu. Tante gendut juga terpana dengan perkataan aku tadi. Tante 1 nya yang terlihat biasa saja juga kagum.

“Nak. Mama kamu mendidik kamu dengan baik. Mama kamu pasti bangga dengan kamu, nak. Cindy, dia diangkat jadi anak kamu saja.” Ledek tante tadi.

Kami semua tertawa. Setelah basa basi dan ngobrol banyak tentang omong kosong, aku memutuskan untuk berpamitan dengan mereka semua. Penampilan mereka memang unik tapi aku yakin mereka orang orang yang baik. Mereka terbuka dan apa adanya meski terkesan agak suka pamer dengan 1001 macam perhiasan yang entah asli atau nemu di jalan.

Tante Cindy tampaknya mulai menyukai aku. Buktinya? ” Nak. Kamu tadi ngobrol sama tante Cindy dan teman teman nya ya? Mereka senang sama kamu loh. Mereka bilang kamu ganteng, baik, sopan dan dewasa.” Puji ibuku. Jelas saja. Itu kan sudah umum. Mereka aja yang pada gak tahu. Gak gaul emang.

“Yah… sama sama berbagi ilmu ma. Aku juga takut pas ngomong gitu, cuma ya daripada diam saja, coba memberanikan diri ngomong. Eh malah pada senang.” Jawabku malu malu.

Aku Kemudian mandi dan beristirahat. Kuping aku sudah mendidih mendengar omongan omongan mereka semua tadi. Bukan karena dimaki atau dimarahi, tapi obrolan mereka yang tidak jelas dan tak tahu harus jawab bagaimana. Rasanya seperti di toilet wanita saja. Tak lama kemudian, aku tertidur.

Besok nya aku kembali kuliah seperti biasa. Sampai rumah, ” Nak. Ke tempat si tante Cindy lagi tuh. Dia mau kasih kamu sesuatu katanya. Tau apaan. Makanan kayaknya.” Kata ibuku. Alhasil, aku ke sana. Tiba di sana, aku lagi lagi disuruh masuk. Memang benar aku dikasih sesuatu. Makanan cemilan dan obat tradisional untuk kesehatan.

Cemilan dan obat tradisional? Cemilan gak sehat dan dikasih obat. Sama kayak rokok dan obat batuk. Suek. Ah peduli amat. Cemilan nanti kasih ibuku saja dan obatnya juga aku kasih ke ibuku. Anak baik kan aku? Jelas dong. Tuh buktinya. Selesai? Belum. Ternyata tante Cindy ada “niat” terselubung. Apa itu?

Ya elah. Dia malah curhat. “Dek. Kamu tahu gak? Omongan kamu kemarin tuh benar semua. Tante selama ini selalu kepikiran tentang mantan suami tante. Tante selalu bertanya tanya, salah tante di mana? Tante anak sudah 3, selalu jaga badan, tapi masih saja mantan suami tante main gila di luar sana. Tante sangat sedih. Untung kamu ada kemarin. Temen temen tante malahan tidak banyak membantu dan kamu, cukup bersabda saja, tante langsung sembuh. Tante sangat senang kalau bisa ketemu kamu setiap hari. Maaf dek. Tante kebawa suasana. Jadi gak enak menangis di depan kamu.” Kata tante Cindy.

Aku memberanikan diri untuk memegang tangan tante Cindy dan menepuk punggung nya dengan pelan. Tante Cindy malah memeluk aku dan menangis. Aku hanya bisa membelai rambutnya. Jujur saja, rambut dia sangat indah. Penampilan dia saat itu terlihat seperti anak abg. Rambut dijepit dengan jepit badai (perempuan tahu kok) agak berantakan tapi seksi juga memakai kaos longgar dengan celana pendek.

Dia mulai berhenti menangis dan aku mencium kepalanya. Dia kemudian menatap aku dengan tersenyum. “Dek. Makasih ya dah menemani tante sesaat. Beban tante sudah hilang.” Kata dia. Dia secara spontan memeluk aku lagi dan mencium kedua pipiku. ” Iya tante. Sama sama.”

Aku tidak merasa gede rasa atau bagaimana. Bagiku itu hanya wanita yang mengucapkan terima kasih saja. Aku Kemudian berpamitan dan sebelum aku pergi, tante Cindy kembali memeluk aku. Dia seperti sedang mengucapkan perpisahan dengan kekasihnya. Gila kali ya.

Dasar tante tante. Apa Yang terjadi tadi sampai ke kuping ibuku. Reaksi ibuku? “Nak. Tadi tante Cindy nangis. Dia terharu sama omongan kamu kemarin. Beban dia dah hilang. Kamu hebat nak. Harusnya jangan ambil fakultas teknik sipil. Jadi motivator saja kayak Mario tegang.” Kata ibuku.

“Ya elah mak. Itu mah gampang. Kasih nasihat ke orang gak susah tapi sekali kena ke diri sendiri… melempem.” Jawabku bercanda. Ibuku dan aku tertawa. Aku Kemudian mandi dan ke kamar untuk belajar. Saat sedang belajar, tiba tiba ada pesan masuk yang tak lain adalah dari si tante Cindy.

“Dek. Makasih ya sayang. Sudah menghibur tante tadi. Tante merasa kamu sudah seperti anak tante. Kalau ada waktu, sabtu main ke rumah ya sayang. Nanti tante kenalkan kamu ke anak tante.”

“Baik tante. Saya ada waktu kosong di hari sabtu. Saya akan ke sana berjumpa sama tante dan anak tante.” Jawabku.

Benar saja. Hari sabtu untungnya tidak ada pesanan kue karena hari jumat sudah ada pesanan 20 kotak ke tempat pak Effendi yang baru saja ulang tahun. Beliau memang sangat dermawan. Tiap kali ulang tahun, dia selalu membagikan kue kue ibuku ke karyawan nya termasuk satpam dan hansip. Dia juga jadi “sumur” keuangan ibuku. Untung saja orang nya gak cabul.

Hari sabtu itu ibuku memang pergi ke pasar dekat rumah aku untuk membeli bahan bahan kue. Setelah mengantar ibuku, aku berpamitan menuju rumah si tante Cindy. Ibuku senyum senyum saja. ” Nah anak mama sudah gede. Jadi konsultan urusan hati wanita dewasa. Hehehe. Mama senang sama kamu, nak.” Ledek ibuku.

Aku berpamitan dan pergi ke rumah tante Cindy. Aku membeli keranjang buah untuk si tante Cindy. Dia terlihat sangat senang. ” Nak. Sini nak. Mama mau kenalkan kamu sama anak teman mama yang jualan kue itu. Yang kue nya kamu suka sampe 1 bungkus habis sendiri sama kamu.” Teriak tante Cindy.

“Mama!! Jangan ngomong gitu lah. Malu kalau kedengaran ama orng apalagi sama Salim.” Teriak anak itu.

“Orang nya sudah di sini nak. Dia dah dengar.”

“Mama!!! Ah gak mau turun. Malu aku.” Kata gadis cantik itu. Si tante Cindy langung ke atas untuk “menyeret” anak perempuannya ke bawah. Gadis itu turun malu malu. “Nih Salim. Kenalan dong. Dia punya mama yang buat kue kesukaan kita. Tuh Lim. Anak tante yang paling kecil dan manja. Namanya Ellen. Anak kedokteran. Makannya badannya bagus. Jago rawat badan. Maklum. Mau jadi ahli gizi. Hehehe. Tapi sekali makan kue mama kamu, 1 bungkus habis. Tante baru mandi, kue nya masih ada. Sudah keluar kamar mandi, tinggal kenangan tuh kue. ” ledek tante Cindy.

“Bohong. Weeekkk. Hehehe. Habis enak banget kue nya. Oh Iya. Aku Ellen.” Dia tersenyum manis dan mengulurkan tangannya. Aku menjabat tangannya. ” Salim. Apa kabar, Ellen?”

“Baik. Kuliah di mana?”

“Tuh kampus aiueo yang di jalan lodan”

“Oh sana. Temen aku kuliah di sana juga tapi fakultas perpajakan.”

“Oh gitu. Ellen masih berapa lama lagi kuliah di sana? Kedokteran biasa 5 tahun kan?”

Kami ngobrol seperti biasa dan sesekali bercanda. Tante Cindy tampak senang melihat kami berdua ngobrol. Mungkin dia berharap kalau kami akan berjodoh. Aku sih berpikir kalau benar demikian, aku dapat anak nya dan usaha dari si tante. Rejeki. Tau dah kenyataan nya gimana…
Dalam waktu singkat, kami bertukaran no hp dan Ellen tampak senang sekali berkenalan denganku. Dia sangat terbuka seperti aku sudah menjadi teman baiknya. Dia bercerita tentang kehidupan dia dan keluarganya di Karawaci sana. Aku mendengarkan semua nya dengan seksama. Aku juga bercerita tentang kehidupan aku. Dia tampak terharu dengan kisah perjalanan hidupku.

Alhasil, hari sudah sore dan aku berpamitan dengan mereka berdua. Aku kembali ke rumah. Sejak kejadian itu, aku dan tante Cindy juga anak bungsu nya menjadi sangat akrab. Tiap sabtu menjadi acara wajib ke sana. Aku dan tante Cindy hampir setiap hari bertemu. Hubungan kami berdua sudah seperti teman baik. Sampai suatu hari, cuaca tak bisa ditebak….
Hujan deras. Siapa yang sangka? Saat perjalanan, matahari begitu cerah dan panas. 30 menit setelah di rumah tante Cindy, hujan badai. Dia sedang sendirian di rumah. Pembantu nya sedang tidak masuk hari itu. ” Dek. Pulangnya nanti dulu ya. Masih hujan. Serem. Tante sendirian. Tunggu ya, sayang.” Kata dia memelas.

“Beres tante.” Kataku. Dan benar saja. Petir menyambar. Tante Cindy berteriak memeluk aku. Aku diam saja dan memeluk dia balik. Kami berdua berpelukan seperti sepasang kekasih. Aku bisa merasakan hembusan nafasnya di dadaku. Dia terlihat begitu damai dan tenang di pelukan ku. Petir menyambar berkali kali. Angin bertiup dengan sangat kencang.

Tante Cindy sampai menangis ketakutan. “Nak. Tolong temani tante ya. Tante takut badai dan petir.” Kata dia sambil menangis. ” Beres tante. Tante sudah seperti mama saya sendiri. Saya jaga tante.” Kataku dengan percaya diri. Aku terus membelai rambutnya dan tiba tiba ikat rambutnya terlepas dengan tidak sengaja. Rambut panjang nya tergerai dengan indah seperti iklan sampo.

Aku memberanikan diri mencium kening tante Cindy. Dia diam tak bergerak kecuali tersenyum malu. “Belum pernah tante dicium sama lelaki tampan dan muda kayak kamu, nak. Tante gak ada anak laki, jadi tante sekarang merasa kamu sudah menjadi anak tante yang hilang dan ditemukan kembali.” Kata dia dengan lembut. Dia kemudian membaringkan kepalanya lagi di dadaku.

“Tante. Tante sudah saya anggap seperti mama saya. Tante tenang saja. Kalau mau, tante tidur di rumah saya saja. Kan ada mama. Bisa ngobrol deh tante sama mama Saya..” Kataku.

“Jngn nak. Jangan. Tetap ďi sini saja. Di samping tante. Tante belum pernah merasa nyaman seperti ini.” Dia menangis. Aku diam saja dan terus membelai rambut dan punggung nya.

“Tante. Tirai saya tutup saja. Biar kalau ada petir, tante gak ketakutan.”

“Tolong ya nak.”

Aku menutup tirai itu. Aku kembali memeluk tante Cindy. Kali ini aku mengangkat wajahnya dan mengusap air matanya. Aku juga membelai wajah cantiknya. “Tante terlihat sangat cantik kalau rambut tante tergerai seperti ini. Tante jangan menangis lagi. Ada saya di sini.”

“Makasih nak.” Kedua Tangan dia merangkul leher ku dan mencium wajahku juga kening ku. Aku tersenyum dan menatap kedua matanya dengan dalam sambil tersenyum kecil. Dia terlihat pasrah dan tersenyum malu malu. “Gantian saya yang cium tante ya. Tante cantik sekali.” Kataku yang langsung mencium kening dan wajah cantiknya.

Dia tersenyum malu. Dia kemudian mendekatkan wajahku ke wajahnya dan menggesek hidung nya di hidung aku seperti ibu muda dengan anak nya yang masih balita. Aku tersenyum dan tertawa. Dia kemudian mencium bibirku. Aku diam saja. Aku tersenyum manis dan aku kembali mengecup bibir nya dengan lembut. Kedua tangan ku kini sudah berada di pinggang tante Cindy.

Kami berciuman layaknya sepasang kekasih. Ciuman kami berakhir dan aku kini menggendong tubuh tante Cindy. Dia tertawa. Tidak ada lagi ketakutan di wajahnya. Dia tampak senang seperti pengantin baru yang digendong suaminya ke atas ranjang. Aku membawa dia ke kamarnya dan membaringkan dia di atas ranjang.

Sekarang kami berdua sudah di atas ranjang dan kami berciuman. Ciuman kali ini bukan hanya cinta tapi penuh nafsu. Kedua tangan kami sudah saling meraba raba dan aku yang sepertinya sudah siap disambar petir, memasukan kedua tanganku ke kaos nya dan melepas bra nya. Dia juga memasukan kedua tangannya ke kaos ku dan memainkan dadaku yang kekar karena aku suka olah raga

Aku memberanikan diri melepas pakaiannya dan bra nya. Dia sudah telanjang di bagian dada. Kaos ku juga sudah berakhir di lantai. Aku sekarang bisa melihat jelas kedua payudara indah nya. Aku yakin ukurannya sama persis dengan Ellen, anak gadisnya. Masih bulat dan kencang. Dia tersenyum malu saat aku melihat kedua payudaranya.

“Tante. Tubuh tante indah sekali.” Kataku berbisik.
“Lim. Jangan bilang siapa siapa ya, termasuk mama kamu.” Kata dia berbisik.

“Beres tanteku sayang.”

Kami berdua lanjut berciuman. Tanganku kini mencoba melepas celana dan celana dalam dia. Dia juga melakukan hal yang sama kepadaku. Dalam tak sampai 1 menit saja, kami berdua sudah telanjang bulat. Dia terpukau melihat penis ku yang besar dan bersih sudah disunat. Jembut ku juga sudah rapih. Tidak botak dan tidak lebat. Jembut tante Cindy juga rapih. Dia tersenyum menatapku.

“Punya kamu besar ya, Lim. Buat tante hangat ya sekarang. Dingin di kamar ini. Kamu sungguh menggairahkan, sayang.” Kata dia dengan bisikan genit manja.

Kami kembali beradu ciuman dan tanganku mulai bermain di dada indah si tante cantik itu. Desahan desahan sudah mulai terdengar di kamar nya. Aku Kemudian turun memberikan kecupan lembut dan mesra di leher putih jenjang miliknya. Kedua matanya tertutup dan mulutnya terbuka kecil sambil mengeluarkan desahan erotis.

Kedua tangan dia memeluk kepalaku sambil mengacak acak rambutku. Aku Kemudian turun ke kedua payudara indahnya. Puting susu itu dimainkan oleh Ku itu dan sesekali juga dijilat dan digigit dengan lembut olehku. Tante Cindy terlihat begitu bergairah dan senang. Suara desahan nya semakin erotis dan menantang.

Kedua payudara itu juga dimainkan olehku dan sesekali aku menarik puting susu nya. Dia terlihat agak geli. Setiap bagian tubuhnya aku cium dan aku raba. Lelaki tolol mana yang mau melewatkan keindahan tubuh ini? Aku ingin ke turun ke bawah menuju bagian intim nya tapi dia menghentikan aku.

“Jangan sayang. Kotor. Belum mandi.” Kata dia sambil tersenyum nakal. Aku Kemudian lanjut berciuman dengan tante ini. Dia kembalikan tubuhku dan meraba raba kedua dadaku yang berotot. “Anak Sylvia memang sudah ganteng, pintar… berotot pula.” Kata dia di depanku.

“Siapa dulu dong mama nya.” Jawabku meledek. Dia tersenyum dan semakin buas mencium bibirku.
Aku bisa merasakan deru nafas nya yang begitu menggebu gebu. Mungkin lama tidak menikmati penis kayaknya. Dia kemudian menggenggam penis ku dan menggesek nya di liang peranakan dia. Vagina tante Cindy sudah basah. Tak butuh waktu lama dan masuklah penis ku ke dalam vagina teman ibuku.

Di hari itu, hujan deras dan angin kencang… membawa hilang perjaka ku. Tante Cindy, penis ini resmi jadi milik tante hari ini. Aku sudah berjanji membuat dirimu merasa nyaman dan hangat saat ini. Tubuh indah tante Cindy mulai bergerak gerak dan bergoyang ke sana sini tak jelas ke mana mengikuti nafsu nya.

Aku meraba raba kedua payudaranya dan memainkan puting susunya. Dia terlihat begitu terangsang dan bergairah. Mungkin sudah lama sekali dia tidak merasakan kenikmatan seperti ini dan kali ini dia mendapatkan seorang perjaka tulen dan tampan (kata si tante loh).

Kedua tangan tante Cindy sekarang meraba raba leher dan meremas remas kedua payudara indah milik dirinya. Aku merasakan jepitan vagina nya yang sangat kencang. Mungkin saja kencang. Entahlah. Apa yang bisa dipahami oleh perjaka? Tapi rasanya seperti penis ini sedang dipijat. Nikmat sekali. Aku ingin ejakulasi tapi tiba tiba tante Cindy berteriak kencang dan cairan bening keluar dari organ intim nya.

Aku yang kaget, ikutan keluar juga tapi di dalam vagina si tante. Kami berdua sama sama berteriak dan tubuh tante Cindy terjatuh di atas tubuhku. Aku hanya bisa membelai rambut dan punggung mulus nya. Dia diam sejenak dan tak lama kemudian, dia bangun dan mencium bibirku dengan lembut.

“Makasih ya sayang. Jangan bilang mama sama Ellen ya. Tante berharap kamu pacaran sama Ellen dan kalau bisa sampai menikah.” Kata tante Cindy penuh harapan.

“Beres tante. Kita berdua saja yang tahu.” Jawabku dengan semangat.

“Saya juga suka sama anak tante. Mama nya cantik. Anaknya juga cantik. Tante sekarang ada anak cowok deh.”

Kami berdua tertawa dan kemudian kami mandi bersama dengan air hangat.

Layaknya muda mudi atau pengantin baru, kami berdua mandi bersama dan kami saling berciuman juga saling membersihkan tubuh masing masing. Tangan lembut nya membersihkan kemaluan ku dan tanganku dituntun olehnya untuk membersihkan liang peranakan nya. Dia mengajarkan aku bagaimana cara menyentuh dan memainkan vagina wanita dengan baik dan benar.

Lagi lagi tante Cindy mendesah. Dia segera menghentikan tanganku. Kami lanjut mandi dan setelah itu, kami berdua keluar dan kami kembali berpakaian. Hujan sudah reda. Aku berpamitan dan pulang. Kami berciuman dulu sebelum aku keluar meninggalkan rumahnya. Ya… hari itulah kami bercinta untuk pertama kalinya.

Sejak kejadian itu, kami rajin bercinta. Untung saja tante Cindy langsung membeli obat anti hamil sehingga dia tidak hamil meski saat itu bukan masa suburnya tapi lebih baik mencegah. Mustahil dibayangkan kalau tante Cindy hamil dan aku menikah dengan anaknya. Singkat kata, Ellen mempunyai paman kecil. Gila.

Terlepas dari itu semua, kami bercinta setiap saat dan kalau sabtu dan minggu, kami bersikap biasa saja di depan Ellen. Mana mungkin kami mengajak Ellen 3some. Karena tante Cindy, aku jadi semakin rajin kuliah dan belajar. Tante Cindy juga semakin bahagia menjalani hari hari nya. Ellen? Ya dia pastinya Tidak tahu tentang aku dan ibu nya

Seiring berjalannya waktu, Aku akhirnya resmi jadian dengan Ellen. Sabtu dan minggu adalah saat aku dan gadis cantik itu kencan. Senin jumat, untuk (1) calon mertua, (2) tante tersayang atau apapun itu. Untung saja jadwal aku tidak dicurigai oleh ibuku. Kalau ditanya, aku bilang saja ada pelajaran tambahan atau belajar dengan teman. Faktanya? Ya kita semua tahu

Aku tak butuh belajar bersama atau pelajaran tambahan. Aku memang sudah pintar dalam urusan kuliah. Tante Cindy juga sering memberikan aku uang jajan sebagai balas jasa karena memuaskan dahaga seks nya. Aku juga mendapat uang tambahan dengan mengajarkan mafia (matematika fisika kimia) ke anak anak sma. Usaha kue ibuku juga semakin sukses dan ramai sehingga ibuku mempekerjakan seorang pembantu untuk membantu dia.

Ellen, gadis itu sungguh cantik. Tubuhnya sama persis seperti sang bunda. Ukuran dadanya juga sama. 34a. Menarik. Aku sudah bisa membayangkan seperti apa gadis itu kalau telanjang nanti. Jelas saja. Kalau tubuh ibunya sudah pernah aku lihat dan bentuk serta ukurannya sama persis dengan anaknya… Ya tinggal ganti wajahnya saja. Gampang.

Epilogue:

5 tahun kemudian, aku dan Ellen yang sudah lulus kuliah, kini resmi menjadi suami istri. Tante Cindy dan ibuku tidak menyangka mereka akan jadi besan. Siapa juga yang menyangka demikian. Ibu dan ibu mertuaku terlihat sangat senang sekali.

Dikarenakan secara hukum, aku sudah menjadi suami Ellen dan menjadi menantu dari tante Cindy, Aku juga diwariskan usahanya yang sudah mutlak menjadi miliknya karena mantan suaminya telah meninggal dunia alias bunuh diri. Uang + usaha dapat, anak gadis nya dapat + mertua cantik juga dapat.

Aku dan istriku hidup bahagia di rumah baru yang kebetulan tidak jauh dari rumah lama ku dan rumah tante Cindy. Beberapa bulan setelah kami kembali dari bulan madu, aku sedang duduk santai di teras, tiba tiba hp bergetar.

“Nak. Ellen besok praktek malam dan kata ramalan cuaca, besok hujan deras….”

Aku tersenyum saja. Pesan itu aku hapus tapi aku sudah tahu apa yang harus aku lakukan.

“Sayang. Makanan dah jadi. Yuk makan…”

“Ok Ellen cantik. “

TAMAT

BOKEP INDO TERBARU

guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x