LIKE FANPAGE FB YANG BARU KLIK DISINI Namanya Penyegar Timeline Malam atau cari @segarmalamceria

Tempat nonton bokep indo, bokep china, bokep barat, bokep waria, komik hentai, onlyfans leaks dan mulai dari cewek ABG sampe tante-tante, semua ada disini

Short Story Menggoda Kakak

Aku berdiri di depan cermin setinggi tubuhku tanpa sehelai benangpun. Uap tipis menguap keluar dari kulitku, membuat udara menjadi sedikit pengap. Aku cukup percaya diri dengan bentuk tubuhku.

Kecil namun gempal. Hasil yang aku dapat setelah olahraga di gym selama setahun. Ukuran dadaku bertambah menjadi 36, dipadu dengan warna kulit kuning langsat turunan dari ibuku. 2

Aku baru saja selesai sauna mandiri, berharap keindahan kulitku terjaga sampai tua nanti. Niatku ingin melanjutkan dengan luluran sambil menonton saluran TV kesukaanku.

“San?” pintu kamar tiba-tiba menjeblak terbuka. Begitu aku memutar tubuh, laki-laki yang menyebut namaku tadi, langsung menutup pintu. “Maaf, maaf! Aku lupa ketuk pintu!” cicitnya dari luar kamar.

Aku mengambil handuk di atas tempat tidur, membungkus tubuhku sekenanya. Bahkan aku sengaja membiarkan dadaku hanya tertutup di bagian puting. Ingin rasanya menggoda anak tukang kebunku satu ini. 3

“Kenapa, Kak?” aku membuka pintu. Menikmati matanya yang membelalak kaget. Cepat namun pasti, dia menyusuri lekuk tubuhku tanpa berkedip. “Kak?” aku sengaja mendekat selangkah sambil mendongakkan kepala. Membiarkan dia makin menikmati harum mawar yang terpancar dari tubuhku.

Butiran air yang ada di ujung poniku, jatuh di atas lengannya, membuat ia tersadar. “Ah, anu.. Itu.. Ibu kamu manggil buat makan malam.”

“Ih, Ibu! Aku lagi diet. Aku nggak mau makan malam!”

“Ta-tapi.. Nanti kamu jadi sakit.”

“Aku cepet gemuk, Kak!” tolakku, sembari bersandar di dinding. Tanganku menyilang di depan dada, membuat bentuk payudaraku membulat dengan sempurna.

“O-o-olahraga aja, San!” jawabnya gugup. Aku sadar dia makin susah mengontrol pandangannya.

“Kakak mau olahraga bareng aku?”

“Aku banyak kerjaan!” tiba-tiba saja dia kabur. Mungkin dia sudah tidak sanggup untuk menahan nafsu birahinya. Yah.. Padahal mau aku goda sampai lihat ‘adik’-nya berdiri. Gagal, deh..

***

Siang itu begitu terik. Aku memutuskan untuk memakai singlet dan celana pendek andalanku. Aku sengaja membiarkan peluh menetes melewati leherku yang jenjang, mengalir menyusuri payudaraku yang tertutup bikini. Singlet itu sudah basah setengahnya karena keringat.

“Eh? Aku kira kamu ikut Ibu sama Bapak ke mall.”

Ah! Dia akhirnya berbalik dan melihatku. Sudah sejak tadi aku memperhatikannya. Kak Anka itu tipe orang yang fokus dengan pekerjaannya. Pantas saja dia tidak sadar keberadaanku yang tengah duduk di ruang tengah yang menghadap ke kebun kecil keluargaku.

Kak Anka langsung menunduk begitu aku tidak menjawab. Mungkin dia sadar bahwa aku memperhatikannya lebih intens. Baju kaosnya basah oleh keringat dan kotor karena tanah. “Aku mau ambil air di dapur.” Dia buru-buru membersihkan kakinya dengan lap, kemudian naik ke teras ruang tengah.

Sebelum dia berhasil mengitari sofa untuk pergi ke dapur, aku menangkap tangannya. “Sini dulu,” ujarku lirih.

“Ta-tanganku kotor,” jawabnya, tapi tidak melakukan perlawanan. Jelas saja Kak Anka tidak melakukan perlawanan. Bahkan aku pikir dia tidak mau melakukan perlawanan. Siapa yang bisa menolak tubuh nan elok ini?

Perlahan, tanganku merayap melewati lengannya yang kekar. Aku bisa merasakan lekuk pembuluh darah yang semakin memanas setiap kali aku bergerak. Aku berdiri, menikmati aroma keringat Kak Anka yang terkuar. Membuat sel-sel di otakku memburu dan wajahku memanas.

Aku mendorongnya perlahan sampai duduk di sofa yang sedetik lalu aku duduki. Dia menahan nafas ketika aku membentangkan kaki kemudian duduk di pangkuannya. Kutekan dada Kak Anka dengan payudaraku yang berisi. Detak jantungnya mengalir ke tubuhku, menyatu seirama. Nafas kami mulai berlomba.

Mata Kak Anka menjadi sayu seiring pipinya yang memerah. Tanganku menggerayangi bentuk tengkuknya. Memacunya untuk berani mengambil tindakan.

Aku menarik kepalanya hingga wajahnya terbenam di antara payudaraku. Panas dari nafasnya membuatku semakin bergairah. Aku merasakan tangannya mulai meremas pantatku, bergerak-gerak pelan nan lembut. 3

Kak Anka membuka mulutnya. Menikmati kenyalnya payudaraku dengan lidahnya. “Ah.. Kak..” desahku sambil meremas rambutnya.

Rupanya dia semakin berani. Dengan cekatan dia menyingkap singletku dan menarik turun bikini yang aku kenakan. Lidahnya menjelajahi putingku dengan penuh nafsu. Hebatnya, nafas Kak Anka kembali teratur, seolah memanfaatkan waktu yang dia punya sebaik mungkin untuk menikmati suguhan di depannya.

“Badanmu bagus,” pujinya pelan. Dia mengangkat kepala, lalu tersenyum simpul. Senyuman itu membuatku makin ingin dijamah olehnya.

Sengaja aku menekan pantatku ke bagian intimnya. Kak Anka melenguh dengan alis mengernyit. Aku dapat merasakan sesuatu yang keras di bawah pantatku.

Kali ini Kak Anka memilih untuk melumat habis bibirku. Aku memakai lip gloss beraroma stroberi hari ini. Kak Anka menyukai stroberi. Kecupan dari Kak Anka membuat hormon di dalam diriku naik-turun. Tangan besar dan kasarnya menyusuri payudaraku yang mulai mengencang karena horny. Sesekali dia mencubit nakal putingku.

Begitu puas dengan bibirku, Kak Anka menatapku dalam-dalam. Wajahnya tidak begitu tampan, namun dia tipikal cowok manis. “Kak mau coba aku?”

Kak Anka mematung. Dari sorot matanya, aku tahu dia menimbang tawaranku.

“Kak Anka yang pertama kalinya buat aku.”

Aku dapat merasakan genggamannya di pantatku kembali mengeras. Pasti pernyataanku memacu adrenalinnya. Ada gadis perawan di hadapannya yang menawarkan diri untuk dinikmati secara suka rela.

Dalam hati, aku sebenarnya kaget karena sekali mencoba efeknya seenak ini. Atau karena pilihanku adalah Kak Anka? Aku sudah menjadikannya target sejak aku duduk di bangku kuliah.

Setiap malam aku memikirkan hari ini akan terwujud suatu hari nanti. Menikmati tangan dan bibirnya, meremas rambutnya, dan merasakan sesuatu yang keras di bawah pantatku. Sebagai gantinya, dia boleh merasakan kenyalnya payudaraku, pantatku yang bulat berisi, dan ranumnya bibirku.

“Aku nggak punya kondom, San.”

“Nggak usah pakai aja.” Aku menyodorkan payudaraku lagi. Ingin merasakan sesapan mulutnya hingga bulu kudukku meremang. Tanpa malu-malu, Kak Anka memenuhi tawaranku. Kami kembali dalam nikmat masing-masing tanpa komentar. Hanya desahan tipis yang kadang keluar tak tertahankan.

“APA-APAAN KALIAN!?”

Aku spontan menarik diri. Mataku beralih ke arah sumber suara. Pacarku tengah berdiri di ambang pintu ruang tengah dengan wajah murka.

BOKEP INDO TERBARU

guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x