LIKE FANPAGE FB YANG BARU KLIK DISINI Namanya Penyegar Timeline Malam atau cari @segarmalamceria

Tempat nonton bokep indo, bokep china, bokep barat, bokep waria, komik hentai, onlyfans leaks dan mulai dari cewek ABG sampe tante-tante, semua ada disini

Mencabuli Mama Di Sekolah

Kuperhatikan Mama yang sedang merapikan isi laci meja. Ia cuma memakai kaus merah ketat, tanpa memakai celana. Pantatnya yang besar dan mengkilap terlihat jelas.

Meski sudah tujuh tahun aku berhasil memperbudaknya, aku gak pernah bosan melihat tubuh Mama. Kakek orang Arab dan Nenek orang Jawa, hasilnya Mama memiliki kulit cokelat eksotis seperti orang Jawa, sedangkan tetek dan pantatnya besar seperti orang Arab.

Dulu aku cuma bisa membayangkan seperti apa Mama kalau telanjang. Tapi sejak kejadian tujuh tahun lalu, aku bisa menyuruhnya buka baju kapan pun aku mau.

Sudah gak terhitung berapa kali aku mengentotnya. Aku selalu memakai kondom agar Mama gak hamil atau aku hajar saja anusnya, toh rasanya hampir sama. Meski usia Mama sudah 55 dan memeknya longgar, aku tetap rutin memasukkan kontolku ke dalamnya setiap kali Ayah pergi dinas ke luar kota.

Mengentot Mama kandung memang pengalaman luar biasa, tapi lebih seru lagi ketika menyuruhnya telanjang di tempat umum.

Sambil melamun memperhatikan pantat Mama, pikiranku terbang ke tujuh tahun lalu.

….

“Tutup bukunya. Belajar di rumah ya,” ujar Mama. Teman-temanku memasukkan buku tulis ke ransel. Ada yang langsung lari keluar kelas, ada juga yang ngobrol.

Aku menguap. Ingin sekali segera pulang dan tidur, tapi aku biasanya harus menunggu satu jam lagi karena Mama harus mengurus berkas-berkas di kantor guru dulu.

“Sudah lapar?” tanya Mama.

Aku menggeleng. “Aku ngantuk.”

Mama mengelus rambutku. “Mama mau mengecek soal ulangan dulu, tunggu sebentar di kelas atau kalau kamu mau menunggu di ruang guru juga boleh.”

“Di sini ajalah Ma. Males ketemu Pak Solihin,” kataku.

“Huuus jangan begitu. Kalau orangnya denger gimana,” ujar Mama. Ia mengapit buku-buku pelajaran, lalu pergi.

Kulipat tanganku ke atas meja. Lima detik kemudian aku tertidur.

Aku mengucek mata. Aku sendirian di kelas. Pintu kelas masih terbuka lebar dan memperlihatkan langit mendung.

Kunyalakan smartphone yang dari tadi tergeletak di atas meja.

Jam setengah dua siang. Aku tertidur selama satu setengah jam dan Mama seharusnya sudah selesai dengan pekerjaannya.

Kuambil ranselku, lalu aku berjalan menuju ruang guru.

Cuma ada dua sepeda motor di tempat parkir. Satunya milik Mama, satunya lagi milik Pak Solihin. Semua guru tampaknya sudah pulang, kecuali Mama dan Pak Solihin.

Meski di desa, sekolahku memiliki ruang guru yang cukup luas. Padahal jumlah gurunya hanya sepuluh orang. Satu orang guru bisa mengajar dua pelajaran. Seperti Mama yang mengajar Matematika dan Bahasa Indonesia.

Aku berjalan sambil melamun. Satu-satunya yang menarik di sekolah cuma Mama. Kalau Mama bukan guru, mungkin aku sudah bolos ke sana kemarin, mencari kesibukan lain.

Mama adalah keturuan Arab dan Jawa. Wajahnya tergolong cantik, tapi aku lebih suka memperhatikan tetek dan pantatnya yang besar. Kalau dia menulis di papan tulis, mataku fokus mengamati pantatnya yang bergerak. Sayangnya ia selalu mengenakan jilbab sehingga sulit melihat belahan teteknya. Bahkan di rumah pun ia memakai daster longgar yang menutupi seluruh tubuhnya.

Aku menebak warna pentil Mama. Mungkin cokelat tua, mungkin juga cokelat muda. Yang pasti gak pink seperti pentil pemain JAV.

“Aaaaah!”

Aku terpaku di depan pintu ruang guru. Itu jelas suara Mama. Ada masalahkah dia?

“Kecilin suaramu. Anakmu masih di sini kan?” ujar suara pria yang aku yakin milik Pak Solihin.

Kudorong pintu sepelan mungkin supaya bisa melihat apa yang mereka lakukan. Untuk pertama kalinya, kedua mataku melotot sampai mau copot.

Mama berbaring di meja lebar dengan kedua kaki mengangkang, sementara Pak Solihin berdiri di tengah-tengah kakinya. Tubuh Pak Solihin bergerak maju mundur, memompa tubuh Mama sampai meja itu berdenyit.

Keringat dingin bercucuran di keningku. Ini skandal antar guru dan dilakukan ibuku sendiri!

Celanaku mengetat. Kusadari ternyata aku menikmati adegan itu.

Kukeluarkan batang kontolku yang sudah mengeras. Astaga kepala kontolku memerah! Kukocok kontolku sambil melihat memek Mama yang dipompa Pak Solihin. Sebentar saja kontolku sudah memuncratkan sperma banyak sekali.

Rasanya lega sekali, tapi kontolku masih mengeras. Melihat paha Mama yang berkeringat membakar gairahku.

Momen ini harus diabadikan. Kuambil smartphone dari saku celana, kunyalakan kameranya, lalu kuarahkan ke mereka.

Adegan itu berlangsung lima menit. Pak Solihin mencabut kontolnya dari memek Mama. Ia menarik ujung kondom yang menempel di kontolnya, lalu melepasnya.

Aku buru-buru memasukkan kembali smartphone ke saku celana dan berbalik mau pergi. Tapi sepatuku menyentuh cairan kental di lantai.

Ah hampir saja aku lupa membersihkan spermaku di lantai!

Kugosok lantai itu sebersih mungkin dengan kaus olahraga dari ranselku. Setelah itu aku langsung berbalik pergi.

Jantungku berdegup kencang.

Mama selingkuh dan aku punya rekamannya. Apa jadinya kalau Ayah tahu kelakuan Mama?

Sebuah ide jahat muncul di kepalaku.

Mungkin aku bisa memakai video ini buat mengancam Mama. Mungkin aku bisa menyuruhnya menuruti apa yang aku mau. Mungkin….

Ide-ide nakal di kepalaku berhamburan keluar. Ini kesempatanku untuk mengerjai Mama.

Aku duduk di bangku kelas dan pura-pura tertidur. Mama mungkin akan menjemputku sebentar lagi.

Benar saja. Sebentar kemudian Mama muncul. Make up wajahnya sedikit berantakan.

“Ayo bangun, kita pulang,” ujar Mama.

Aku berlagak menguap. “Mama lama bener sih.”

“Mama masih banyak urusan tadi. Sekarang kita pulang.”

Mama memboncengku di atas sepeda motor. Aku memeluknya dari belakang. Ketika motor jalan, diam-diam kuelus teteknya yang masih terbungkus pakaian.

Besok ini akan jadi milikku.

….

“Tumben bangun pagi,” ujar Mama sambil membenarkan jilbabnya. “Biasanya tunggu diteriakin dulu baru bangun.”

Semalaman aku gak bisa tidur karena memikirkan hal seru yang bakal terjadi hari ini. Meski sudah coli dua kali, tetap saja pikiranku melayang-layang.

Kemarin sore aku sudah membeli nomor baru dan kupasang ke smartphone-ku yang lama. Benda usang itu bakal berperan penting hari ini.

“Ayah belum bangun?” tanyaku.

“Ayah sudah pergi dari tadi. Akhir-akhir ini dia sibuk bener,” jawab Mama tanpa menoleh. “Mandilah, terus sarapan.”

Kami sarapan di dapur. Mama terus berbicara soal nilai-nilaiku yang menurutnya standar.

“Mama gak mau kamu main hape terus. Meski di kampung, Mama mau kamu jadi juara satu di sekolah,” ujar Mama.

Aku mengangguk saja. Pikiranku berkecamuk antara mau melakukan rencanaku sekarang atau nanti.

Kuputuskan untuk melaksanakan aksiku. Jariku bergerak di atas layar smartphone. Detik kemudian smartphone Mama berdenting.

“Ada nomor baru nge-WA Mama,” ujar Mama. Ia membuka smartphone-nya. Matanya terbelalak. Ia menutup mulutnya.

“G-gak mungkin!”

“Kenapa Ma?” aku pura-pura terkejut.

“Gak apa-apa. Kamu makan dulu aja,” ujar Mama. Suaranya gemetar.

Kuselesaikan makan sambil sesekali melirik Mama. Tangan kanannya memegang kencang smartphone, sementara tangan kirinya mengelus dada.

Aku tersenyum mengingat pesan yang kukirim ke Mama. Meski pesannya pendek, aku perlu berpikir semalaman untuk mencari kata-kata yang tepat.

“Wah wah enak ya ngentot sama Pak Solihin sampai gak sadar saya rekam. Bu Siti memang cocok jadi lonte di sekolah.

Gimana ya reaksi suamimu kalau tahu?”

Mama mengetik sesuatu di smartphone-nya. Saku celanaku bergetar. Untung aku sudah mematikan suaranya jadi Mama gak tahu kalau pesannya terkirim ke aku.

Nanti sajalah balasnya kalau momennya tepat. Sekarang biar dia kebingungan.

….

“Kau kenapa senyum-senyum?” tanya Budi, teman sekelasku.

“Gak apa-apa. Aku cuma teringat game kemarin,” kataku berbohong.

Tanganku memegang smartphone dengan pesan Mama: “Siapa kamu? Dari mana kamu dapat video itu?”

Kutunggu Budi menjauh supaya gak melihat isi pesan Mama.

“Gimana kalau suamimu tahu kelakuan istrinya?” aku membalas pesan Mama. “Wah bisa rame.”

Mama membalasku lagi. “Jadi kamu mau apa? Uang?”

Tampaknya dia mulai ketakutan.

“Saya gak butuh uang. Saya mau Bu Siti nurut apa yang saya suruh,” balasku.

Cuma centang biru.

Apa Mama menyerah?

Setengah jam kemudian, Mama baru membalas.

“Oke saya turutin semua mau kamu. Tapi jangan kirim video itu ke suami saya. Kasihan anak saya.”

Aku melompat kegirangan. Teman-temanku yang lewat sampai kaget.

“Oke, saya akan kasih kamu perintah nanti. Pokoknya kamu harus nurut. Lima menit saja kamu gak ngelakuin, saya kirim video aib ini ke suami kamu,” balasku.

Bel masuk kelas berbunyi. Mama akan mengajar kelasku. Petualanganku dimulai hari ini.

….

“Sampai sini ada yang mau ditanyakan?” tanya Mama.

Seperti biasa, gak ada yang mau bertanya. Semua murid sibuk mencatat tulisan di papan tulis.

Hari itu Mama mengenakan gamis hijau yang menutupi hampir seluruh badannya. Jantungku berdegup kencang membayangkan bila Mama melepas pakaiannya di depan kelas.

Ah, itu dia!

Kutaruh smartphone di paha biar gak kelihatan Mama, lalu kukirim pesan singkat kepadanya.

“Buka baju sekarang.”

Smartphone Mama di atas meja guru bergetar. Mama mengambilnya, lalu membuka pesannya. Wajahnya menegang.

“Tapi saya lagi mengajar di depan kelas,” balas Mama.

“Waktu kamu cuma lima menit atau video itu saya kirim ke suami kamu,” balasku.

Bibir Mama bergetar membaca pesanku. Mama menaruh kembali smartphone-nya. Ia berjalan bolak-balik di depan kelas. Akhirnya ia berhenti.

Ini dia!

Mama meraih bagian bawah gamisnya, lalu mengangkatnya sampai melewati perut. Teman-temanku tercengang melihatnya.

“Bu Guru kenapa?” tanya salah satu murid.

Mama diam saja. Ia terus mengangkat gamisnya sampai melewati kedua teteknya yang masih terbungkus beha putih.

Murid-murid semakin tegang melihat Mama.

“Eh Mama kamu kenapa?” bisik Budi dari belakang.

“Sumpah aku gak tahu!” kataku.

Mama menggulung bajunya begitu sudah melewati dada. Ia meraih kait beha dj belakang. Tangannya berhenti bergerak. Matanya menatap murid-muridnya yang kebingungan.

“I-Ibu gak bisa jelasin ini ke kalian. Tapi Ibu mohon jangan kasih tahu siapa-siapa,” ujar Mama.

Ia melepas kait behanya. Beha putihnya jatuh ke lantai. Kini murid-murid satu kelas bisa melihat tetek Mama yang besar dan berurat.

Kakiku bergetar melihat tetek Mama yang luar biasa. Anak-anak lain pasti sama takjubnya denganku. Aku bisa mendengar murid-murid cowok yang menelan ludah.

Mama menundukkan kepala. Jelas ia malu.

“Sekarang kita lanjut pelajarannya,” ujarnya pelan.

Aku sulit konsentrasi dengan apa yang dikatakannya. Mataku terpaku melihat teteknya yang gondal-gandul. Ternyata pentil Mama berwarna cokelat tua. Badanku semakin panas dingin melihatnya.

Kulirik teman-temanku. Mereka juga melotot melihat Mama. Murid-murid cewek saling bisik-bisik, sementara murid-murid cowok ada yang merekam Mama.

Zaenal yang duduk di sebelahku, bahkan sampai mengeluarkan kontolnya, lalu mengocoknya pelan-pelan. Ia menggeser mejanya lebih dekat supaya kontolnya gak terlihat yang lain.

“Ough Bu Siti,” bisik Zaenal.

“Mama kamu kenapa, hei!” Budi mengguncang-guncang pundakku.

“Mu-mungkin dia gerah,” jawabku sekadarnya. Ini anak kenapa gak nikmatin saja sih?

Bel pergantian pelajaran berbunyi. Mama cepat-cepat memungut behanya, lalu berlari keluar.

Anak-anak langsung ribut.

“Gilaaaa, teteknya besar banget!” teriak Zaenal.

“Bu Siti kenapa sih?” tanya murid-murid cewek.

Jawabanku tetap sama.

“Mungkin dia kepanasan.”

….

Di rumah, Mama memanggilku. Wajahnya pucat.

“Jangan bilang-bilang soal tadi ke Ayah,” kata Mama.

Aku mengangkat bahu. “Tapi Mama memangnya tadi kenapa kok bisa buka baju di depan kelas?”

Mama tersenyum, tapi terlihat dipaksakan. “Mama kepanasan. Bener-bener gak tahan. Kepala sekolah kita seharusnya memasang AC di kelas.”

….

Paginya, aku mengirim pesan lagi ke Mama. “Pergi ke sekolah jangan pakai celana. Jangan naik motor. Jalan kaki!”

“Tapi suami saya ada di rumah,” balas Mama. Padahal Ayah sudah pergi bekerja setengah jam yang lalu.

Kubalas lagi. “Bodo amat. Awas saja kalau saya lihat kamu ke sekolah pakai celana. Kamu baru boleh pakai celana di sekolah.”

Aku sedang mengikat tali sepatu saat Mama berdiri di sebelahku cuma memakai baju tanpa celana. Ia masih memakai sempak yang melorot sampai jembutnya kelihatan.

Aku menelan ludah melihat jembut Mama mengintip di sela-sela karet sempak.

“Mama kenapa berpakaian begitu? Kita udah mau berangkat loh,” tanyaku.

“Mama mau jalan kaki biar sehat,” ujar Mama. Sadar dirinya cuma pakai sempak, ia langsung menjelaskan. “Katanya kaki lebih bebas bergerak kalau cuma pakai sempak.”

“Kalau ketahuan orang di jalan gimana?” tanyaku.

“Kita lewat jalan lain yang lebih sepi,” ujarnya.

Di belakang rumah kami ada jalan kecil yang searah ke sekolah, tapi jaraknya lebih jauh. Jalan itu jarang dilewati, kecuali di sore hari saat petani-petani pulang.

Mama berjalan di depanku. Meski pakai sempak, ukurannya yang kecil membuat belahan pantatnya terlihat. Aku merekam Mama dari belakang. Siapa tahu berguna suatu saat nanti.

“Loh Bu Siti lewat sini?” suara Budi mengagetkan kami. Ia muncul dari persimpangan jalan.

“Bu Siti kenapa gak pakai celana?” Ia memandang Mama takjub. Ia baru sadar kalau selangkangan Mama cuma ditutupi sempak.

“Sedang olahraga sebentar,” ujar Mama.

“Tapi jembut Ibu….” Matanya menatap ke jembut Mama.

“Yuk Ma sebelum makin banyak orang,” kataku.

“Mama kamu gak apa-apa kan?” bisik Budi ketika kami berjalan di belakang Mama.

“Dia sehat-sehat saja, cuma katanya jalan kaki gak pakai celana bikin lebih sehat,” kataku.

“Sebenernya aku senang sih, tapi Mama kamu gak beres,” ujar Budi.

Kami berjalan sekitar satu setengah kilometer dan sampai di halaman belakang gedung sekolah yang dibatasi pagar tua. Beberapa papan pagar itu ada yang copot karena dipakai anak-anak buat bolos.

“Ma, di sini gak ada pintu. Apa Mama mau lewat depan?” tanyaku.

Mama melihat arlojinya. “Sebentar lagi mau masuk kelas. Lewat pagar ini sajalah yang cepat.”

“Berarti papannya harus digeser dulu,” kataku.

Aku dan Budi menggeser beberapa papan supaya bisa dilewati Mama.

“Nah, kayaknya ini sudah bisa dilewati Mama,” kataku sambil menunjuk celah pagar yang lebar.

Mama menundukkan kepala, lalu masuk ke celah pagar itu. Celah itu mudah dilewati sampai perutnya, tapi macet tersangkut pinggang Mama yang lebih lebar.

“Tolongin Mama!” seru Mama cemas.

Aku dan Budi terpaku melihat pantat Mama yang terpampang di depan kami. Sempak kecilnya semakin mengetat sehingga masuk ke dalam belahan pantatnya.

“Tolong!” serunya lagi.

Aku tersadar dan mulai menggeser papan pagar yang menjempit Mama. Budi membantuku.

Papan pagar yang kami geser pecah, tapi badan Mama tetap tersangkut.

Aku ada ide.

“Mama aku dorong ya,” kataku.

“Terserah, yang penting Mama bisa keluar!” seru Mama.

Kutaruh kedua telapak tanganku ke pantat Mama, lalu kudorong sekuat tenaga. Pantatnya licin karena keringat, jadi kuremas kencang-kencang.

“Aduh!” Mama kesakitan.

Kulihat Budi bengong melihat pantat Mama dan aku sadar ternyata sempak Mama sudah melorot. Kedua pantatnya yang berukuran dua kali lipat kepalaku kini terlihat jelas. Anus Mama yang hitam mengintip sedikit dari belahan pantatnya.

Aku pura-pura terpeleset dan membuka lebar belahan pantatnya. Anusnya sampai menganga dan ujung garis memeknya sedikit terbuka.

“Maaf Ma!”

“Iya gak apa-apa,” ujar Mama.

“Budi bantuin aku dong,” kataku.

“Eh, tapi pantat ibumu….” Ia kebingungan.

“Udah, dorong aja. Kita telat nih!”

Budi menggantikan posisiku. Ia menaruh kedua telapak tangannya ke pantat Mama. Jari-jarinya tangannya sedikit mencengkeram pantat Mama.

“Empuk bener,” komentarnya.

Ia mendorong Mama. Budi berbadan lebih besar dariku dan tenaganya lebih kuat. Dalam sekali dorong saja tubuh Mama sudah keluar dari pagar.

Mama terjungkal dalam posisi menungging.

Aku buru-buru menolong Mama. Ketika menolongnya, kuselipkan jari telunjukku ke anusnya. Ah sedikit berminyak.

“Mama gak apa-apa?”

Mama bangkit berdiri. “Gak apa-apa, cuma pinggang Mama sakit.”

“Maaf, aku terlalu kuat mendorongnya,” ujar Budi.

Mama menaikkan sempaknya yang melorot sampai ke lutut. Sekilas aku melihat memeknya yang ditumbuhi jembut tebal.

“Kalian duluan saja, Mama mau pakai celana dulu,” ujar Mama.

“Mama yakin gak apa-apa?” aku berusaha menunjukkan kekhawatiran.

“Udah kamu tenang aja,” ujar Mama.

Aku dan Budi meninggalkan Mama.

“Per-pertama kalinya aku megang pantat cewek!” seru Budi ketika kami sudah hampir mendekati gedung sekolah.

Aku diam saja karena memikirkan rencana lain. Mama melakukan kesalahan karena pergi ke sekolah pakai sempak, padahal aku ingin dia menunjukkan memeknya.

Mama harus dihukum.

….

“Hei lonte, kamu kenapa pakai sempak tadi!” pesanku ke Mama. “Saya mau kamu gak pakai bawahan apa-apa.”

“Kamu gak ngelarang saya pakai sempak,” balas Mama. “Dari mana kamu tahu saya pakai sempak?”

“Saya lihat kamu pakai celana di belakang sekolah,” jawabku.

“Berarti kamu orang dalam sekolah,” balas Mama.

“Siapa saya itu gak penting,” jawabku. “Nanti kamu harus colok anusmu sendiri di depan kelas terus minta murid-muridmu buat colokin jarinya ke anusmu.”

“Tapi habis ini saya mau ngajar di kelas anak saya. Kemarin saya sudah pamer tetek di kelasnya,” balas Mama.

“Lakukan atau videomu tersebar,” aku menutup pesan.

Bel pergantian jam berbunyi. Mama masuk ke kelas. Meski ia sudah mengenakan pakaian lengkap, tapi wajahnya cemas.

“Kita lanjutkan pelajaran kemarin,” Mama membuka pelajaran.

Murid-murid cowok tersenyum mengejek.

“Guru lonte,” bisik mereka.

Mama menjelaskan Aljabar di papan tulis. Kulihat tangannya bergetar saat menulis. Pasti dia terbayang-bayang ancamanku.

Ia menaruh spidol ke meja, lalu menatap kami. Bibirnya bergerak seolah hendak mengatakan sesuatu, tapi ditahannya keras-keras.

Mama berbalik, lalu menungging. Karet celananya dipegang, lalu diturunkan sampai mata kaki. Sempaknya ikut melorot.

“Waaaaaaah!” murid-murid berteriak saat pantat telanjang Mama menyembul keluar.

Aku gak menyangka Mama benar-benar nekat. Sebegitu takutnya dia kalau videonya disebar sampai rela dipermalukan.

Mama melebarkan belahan pantatnya sampai anusnya kelihatan. Aku bisa melihat lubang anusnya yang mengerut. Anak-anak semakin ribut melihat kelakuan Mama.

Ia menusuk anusnya dengan telunjuk sampai setengah jari.

“Berhenti Ma!” seruku. Tentu saja itu aku berpura-pura.

Kutarik tangan Mama sampai jarinya keluar dari anusnya.

“Mama harus lakukan ini,” kata Mama. “Anak-anak, Bu Guru minta masukin jari kalian ke anus Ibu.”

“Tapi Bu….” Mereka ragu-ragu.

“Ibu gak bisa jelaskan ini. Tapi kalian harus menuruti Ibu!” seru Mama.

Budi maju mendekati Mama. “Aku gak ngerti. Tapi sudahlah.”

Mama melenguh saat Budi menusuk anusnya dengan telunjuk. Lenguhannya menguat karena Budi memutar-mutar telunjuknya.

“Aku mau! Aku mau!” seru murid lain. Bahkan murid-murid cewek ikut penasaran.

Zaenal yang paling bersemangat. Ia ikut melebarkan belahan pantat Mama sampai anus Mama terlihat rongganya.

“Wiiiih kayak di film bokep, cuma lebih item!” serunya kesenangan.

Ia meludahi anus Mama, lalu menusuknya dengan telunjuk. “Wah rasanya kayak disedot.”

“Jangan sakiti Mama!” teriakku. Dalam hati, aku senang melihat mereka berkerumun mempermalukan Mama.

“Kau gak mau coba?” kata Zaenal sambil melepas tusukannya. “Anget loh!”

“A-aku juga mau tahu rasanya,” kataku.

Kuarahkan telunjuk dan jari tengahku ke pantat Mama. Jari telunjukku masuk ke anusnya dan jari tengahku masuk ke memeknya.

“Aaaaaaah!” erang Mama.

Zaenal benar. Anus Mama menjepit erat jariku. Memeknya juga menjepit, tapi lebih longgar dari anusnya.

“Ada air keluar dari memeknya!” seru murid-murid cewek sambil menunjuk ke memek Mama.

Air itu kental seperti sirup bening dan semakin banyak keluar saat aku menggosok memeknya.

“Hei gantian! Kami juga mau coba!” ujar murid-murid cewek. “Kayaknya asik!”

Kutarik jariku kuat-kuat. Tubuh Mama mengejang. Ia meringis kesakitan. “Pelan-pelan Nak!”

Gantian murid-murid cewek mengerumuni Mama. Mereka berteriak nyaring setiap kali jari mereka masuk ke anus Mama.

“Anus Bu Siti bergerak!” komentar mereka.

Mereka juga mengamati jembut yang bergelantungan di memek Mama. Tampaknya mereka lebih penasaran karena merasa bakal memiliki tubuh seperti Mama kalau tua nanti.

Mama menjerit ketika salah satu murid cewek mencabut jembutnya.

“Sakit Bu?” tanya murid itu.

“Sakit! Jangan lakuin itu ya,” kata Mama.

Semua murid di kelas bergantian mencolok jari mereka ke anus Mama. Beberapa malah iseng menggunting jembut Mama buat kenang-kenangan.

Bel istirahat berbunyi. Mama menaikkan celananya. Matanya merah seperti habis menangis.

“Ingat, jangan bilang siapa-siapa,” ujar Mama. Ia langsung pergi.

Hari itu teman-teman satu kelasku mendapat pengalaman paling berkesan.

….

Aku dan Mama pulang berjalan kaki. Kali ini lewat jalan biasa karena Mama memakai semua pakaian.

Wajahnya tertunduk. Ia menangis.

“Ma-mama gak tahu harus apa. Ada orang yang ngancam bakal mencelakai Mama kalau Mama gak menurutinya,” ujarnya.

“Siapa Ma?” tanyaku.

“Mama juga gak tahu. Yang pasti dia ada di sekolah kita,” kata Mama. “Mama bener-bener bingung.”

“Pantes Mama akhir-akhir aneh bener,” kataku. “Mama gak lapor Ayah?”

“Jangan sampai Ayah tahu! Mama takut kita celaka!” serunya. “Pokoknya sementara Mama harus menurutinya. Cuma itu yang Mama pikirkan.”

Aku tersenyum. Besok bakal lebih seru lagi.

….

Subuh-subuh kukirim pesan ke Mama: “Jam istirahat nanti, berdiri telanjang di lorong belakang. Buka memekmu sampai jam masuk kelas.”

“Tapi di sana banyak murid-murid lewat,” balas Mama.

“Jangan curang kayak kemarin.” Cuma itu balasanku. Mama tidak membalas lagi.

Aku dan Mama pergi ke sekolah naik sepeda motor. Mama membisu. Nyaris saja kami menabrak kucing kalau aku tidak memperingatkan Mama.

“Mama kepikiran apa?” tanyaku.

“Orang jahat itu minta mama ngelakuin sesuatu di sekolah, pas istirahat nanti,” ujar Mama. “Mama minta kamu gak ke lorong samping sekolah ya.”

“Tapi aku penasaran,” kataku sambil memeluk erat Mama.

Mama memperlambat laju sepeda motor. “Pokoknya jangan.”

….

“Kerjakan soal halaman 42 di rumah. Yang gak ngerjain bakal saya hukum berdiri di lapangan,” tutup Pak Udin, guru biologi.

Bel istirahat berbunyi. Murid-murid berhamburan keluar kelas.

Aku lari ke lorong samping sekolah. Begitu mau sampai, aku mengendap-endap di dinding dan mengintip ke samping.

Mama sudah berada di sana. Ia celingukan mengamati murid-murid yang lewat. Lorong itu memang paling sepi dan jarang dilewati guru. Tapi lorong itu tempat andalan murid-murid yang bergosip atau bermain kartu.

Jantungku berdebar. Mama masih mengenakan pakaian lengkap. Apa dia menolak permintaanku?

Ia membalikkan badan, lalu melepas bajunya. Murid-murid yang lewat langsung berhenti. Mereka mengamati Mama.

“Bu Siti lagi ngapain?” tanya mereka.

Mama diam saja. Ia menurunkan celananya sehingga cuma memakai beha dan sempak putih.

“Gila kalik,” bisik murid-murid. “Kata anak sebelah dia kemarin buka celana di delan kelas.”

Mereka berkumpul semakin banyak. Murid-murid cowok bersiul menggoda Mama, sementara murid-murid cewek menonton sambil berbisik-bisik.

Wajah Mama memerah saat ia menurunkan sempaknya. Murid-murid cowok melompat kegirangan saat memek Mama terlihat.

“Memeknya item!” ejek mereka sambil menunjuk ke memek Mama.

Meski mengejek, mereka berjongkok di bawah Mama supaya bisa melihat memeknya lebih jelas.

Mama menarik pinggiran memeknya sampai lubangnya menganga. Murid-murid yang menontonnya semakin ribut. Mereka menertawakan Mama.

“Bu Siti udah gila!”

Seorang murid tiba-tiba mencobloskan telunjuknya ke memek Mama. Tubuh Mama mengejang sampai kedua kakinya menjinjit.

“Aaaaaah!” erang Mama.

“Bu Siti emang lonte. Bu Siti senengkan diginiin?” ujar murid itu sambil menusuk memek Mama lebih dalam.

Saking kuatnya tusukan itu sampai Mama terdorong ke belakang. Punggung Mama menempel ke dinding.

“Yuk cabuli sekalian lonte ini!” seru yang lain.

“Eh jangan!” seru Mama.

Kedua tangan Mama dipegang oleh empat murid. Mama meronta-ronta, tapi keempat murid itu terlalu kuat.

Seorang murid mengendus memek Mama. “Jadi gini bau memek,” komentarnya.

Murid itu mencolok memek Mama dengan kelima jarinya sekaligus. Mama menjerit, tapi murid lain buru-buru menyumpal mulut Mama dengan sempak.

“Diam kau lonte!”

“Hahahaha memeknya udah lober!” ujar murid tadi. Tangannya digerakkan maju mundur.

Kedua kaki Mama semakin mengejang. Memeknya mengeluarkan cairan bening yang tampak kental.

“Wah sange juga kau ya,” ujar murid lain.

Pemandangan itu benar-benar mengejutkan. Aku gak nyangka murid-murid bertindak seganas itu. Tapi kejadian ini sayang dilewatkan. Aku sudah merekamnya di smartphone.

Murid cabul tadi mencabut jarinya dari memek Mama. Ia menjilat cairan yang menempel di jarinya.

“Aku! Aku!” Murid lain berebutan mendekati Mama.

Untungnya sebelum semakin ribut, bel masuk kelas berbunyi. Murid-murid itu teralihkan sebentar dan Mama langsung menghempas kedua tangannya supaya lepas dari cengkraman murid-muridnya. Ia buru-buru mengambil pakaiannya di lantai dan menghilang di belokan lorong.

….

Di perjalanan pulang, Mama terus menangis. Aku berusaha menenangkannya.

“Sabar Ma, pasti ada jalan keluarnya,” kataku.

“Mama udah gak tahan lagi,” isaknya.

“Memangnya kenapa sih Mama sampai nurutin dia sebegitunya?” tanyaku.

Mama mengelap air matanya. “Kamu gak perlu tahu Nak.”

Menangis sepuasnya Ma, pikirku. Beberapa hari lagi Mama bakal dapat lebih parah dari ini.

….

Hari itu sekolahku mengadakan acara cerdas cermat yang sudah jadi tradisi setahun sekali. Murid-murid yang mewakili kelasnya akan beradu kecerdasan di lapangan sekolah dan ada banyak lomba lainnya. Orangtua murid juga diundang untuk melihat kegiatan anaknya.

Mama tampak ceria dari biasanya. Sudah lebih dari seminggu aku tidak mengiriminya pesan. Mungkin dia pikir ancamanku sudah berakhir. Padahal aku sedang merencanakan yang lebih hebat dan mungkin mematikan karir Mama sebagai guru.

Tapi bodo amat. Mengerjai Mama ternyata lebih seru. Membayangkannya saja sudah membuatku coli berkali-kali.

Mama ditunjuk sebagai pembawa acara. Seharian ini aku cuma bisa memandang Mama dari kejauhan karena ia terus berbicara di depan peserta.

Gak masalah. Rencanaku akan terus berjalan.

Kukirim pesan singkat ke Mama: “Perlihatkan tetek indahmu sekarang.”

Kulihat Mama mengambil smarphone-nya dari saku celana. Wajah cerianya langsung berubah pucat. Tapi ia tetap menjaga nada suaranya agar tetap ceria di depan orang-orang.

“Ya jawaban Anwar benar! Indonesia merdeka di tahun 1945!” seru Mama sambil bertepuk tangan. Para guru dan orangtua yang menonton ikut bertepuk tangan.

Aku mengiriminya pesan lagi: “Satu menit lagi aku kirim video ltu ke suamimu.”

Centang biru dua. Wajah Mama semakin pucat. Ia terdiam cukup lama.

“Bu Siti kenapa?” tanya Bu Romlah, Kepala Sekolah.

“Gak apa-apa Bu,” sahut Mama. “Cuma sedikit gak enak badan.”

Mama melanjutkan bicara, tapi suaranya sedikit terbata-bata. Ia sering terbatuk-batuk.

“Y-ya kita mulai lagi kuisnya,” ujar Mama.

Kurang ajar, tampaknya dia gak mau nurut perintahku. Awas saja.

Tapi dugaanku salah. Hari itu adalah hari bersejarah buat semua orang yang hadir di sekolah.

Mama tiba-tiba menggulung bajunya ke atas sampai kedua teteknya kelihatan. Para guru dan orangtua langsung berhenti bicara, lalu berteriak ke Mama.

“Loh loh Bu Siti mau apa!”

Mama menarik kait behanya sampai terlepas. Kedua teteknya yang berurat kini jadi tontonan satu sekolah.

“Astagfirulloh, Bu Siti!” pekik Bu Romlah.

Anehnya gak ada yang berniat menghentikan Mama. Semua melotot melihat tetek Mama yang bergelantungan bebas tanpa penutup. Ibu-ibu lain cuma menutup mulut dan berbisik-bisik, sementara bapak-bapak cuma melongo kaget.

Mama berdiri mematung di tengah lapangan sekolah. Ia memandang orang-orang di depannya dengan ketakutan. Aku yakin dia pasti menyesal kenapa memilih menurutiku daripada malu di depan banyak orang.

“Suruh dia turun!” teriak Bu Romlah.

Tiga guru laki-laki berlari ke Mama. Aku menyeruak di kerumuman dan segera menarik tangan Mama.

“Ma ayo kita pulang!” kataku.

Kebingungan. Mama memilih mengikutiku. Kami berlari menuju jalan besar yang lebih dekat. Ketiga guru tersebut memanggil kami, tapi kami terus saja berlari.

Setelah beberapa meter menjauhi sekolah, kami berhenti di pinggir jalan karena Mama ngos-ngosan. Wajahnya berkeringat.

“Berhenti dulu Nak, Mama gak kuat.”

Aku tersenyum geli. “Mama teteknya masih kelihatan tuh.”

Mama baru sadar ternyata di sepanjang jalan tadi teteknya masih belum ditutupi. Ia segera menurunkan bajunya yang tergulung.

“Mama kenapa buka baju tadi?” tanyaku.

Mama menghela napas. “Kayaknya kamu perlu tahu. Ada yang ngerekam Mama lagi berduaan sama Pak Solihin terus dia ngancem bakal ngirim video itu ke Ayah kalau Mama gak nurutin dia.”

“Kalau cuma berduaan harusnya gak masalah dong,” kataku pura-pura polos.

“Tapi ini lebih dari berduaan,” ujar Mama. “Kamu masih kecil, gak bakal ngerti.”

“Maksud Mama video ini?” Kuputar video skandal Mama, lalu kutunjukkan ke dia. Matanya melotot melihat video mesumnya dengan Pak Solihin.

“Kenapa kamu punya video itu?”

“Menurut Mama kenapa?”

Mama menutup mulutnya. “Astgafirulloh! Jadi kamu yang selama ini mengirim Mama pesan-pesan itu!”

Ia hendak menamparku, tapi aku langsung mundur.

“Mama jangan aneh-aneh kalau gak mau inu kukirim ke Ayah. Kalau Ayah tahu, dia pasti pulang lebih cepat,” kataku sambil menunjuk video itu.

“Anak setan!” teriak Mama. “Hapus video itu!”

“Gak bakal Ma. Ini hukuman buat Mama karena udah main sama orang lain,” kataku.

“Mama minta maaf. Mama janji gak bakal main sama Pak Solihin lagi,” kata Mama. Suaranya memelas. “Ayo Nak hapus. Kamu gak kasihan sama Mama?”

Aku menggeleng. “Anehnya nggak Ma. Malah seru jadi bisa ngerjain Mama.”

Mama bersimpuh. Ia menarik bajuku. “Mama mohon Nak. Hapus video itu.”

“Kita mending pulang deh,” kataku.

“Nak….” Mama masih memohon.

“Ayo berdiri Ma. Kita pulang.”

Mama berdiri. Ia menepuk pundaknya yang kotor berdebu.

“Oh iya, lepas baju Mama,” kataku.

“Tapi ini di jalan,” kata Mama.

“Ah Mama udah pamer tetek di depan banyak orang tadi. Masa masih malu,” kataku. “Ayo lepas baju Mama.”

Mama melepas bajunya. Kedua teteknya yang tanpa beha langsung meyembul keluar.

Kuambil baju Mama, lalu kurobek sampai jadi dua kain panjang.

“Tangan Mama taruh di belakang,” kataku.

Mama menurut saja. Ia menaruh kedua tangannya ke belakang. Kuikat kedua pergelangan tangannya dengan dua kain tadi. Mama seperti diborgol.

Celana Mama kupelorotin sampai ke dengkul. Sempaknya juga. Dengan begini Mama gak bisa lari kalau dia berubah pikiran.

“Hmmmm memek lonte,” kataku sambil mengelus jembutnya. “Yuk jalan. Rumah kita toh dekat.”

Mama jalan tertatih-tatih. Tentu sulit melangkah dengan celana dan sempak yang menyangkut di dengkul. Kalau jalannya terlalu lambat, kusodok anusnya dengan jempol sampai dia kaget lalu mempercepat langkah.

Sebuah sepeda motor lewat di samping kami. Pengemudinya berteriak saat mendekat. “Teteknya bagus!”

Mama menangis. “Kok kamu tega giniin Mama Nak?”

“Salah Mama sendiri udah selingkuh. Mama emang pantes kena hukuman,” kataku sambil mengelus pantatnya yang berkeringat.

Jalan di depan kami bercabang dua. Sebelah kiri menuju rumah, sebelah kanan lagi menuju pinggir jalan tol. Aku menarik Mama supaya belok kanan.

“Tapi rumah kita di sana,” kata Mama.

“Aku tahu Ma. Sudahlah jangan banyak ngomong,” kataku.

Jalan itu tadinya menuju kampung sebelah, tapi jadi buntu karena terpotong jalan tol. Antara jalan kecil dan jalan tol cuma dibatas pagar besi setinggi pinggang orang dewasa biar gak ada kendaraan menyelonong masuk. Beberapa bagian pagar itu ada yang rusak karena besinya dicuri orang.

Aku menyelinap di pagar yang rusak. Mama kutarik supaya mengikutiku. Pahanya sedikit terbaret pagar besi.

Kami berada di pinggir jalan tol yang agak lebar sehingga mobil-mobil melaju gak menyerempet kami.

“Kamu mau apa Nak di sini?” Mama ketakutan.

“Kita harus cepet. Kalau nggak bakal ada yang lapor polisi,” kataku. “Mama nungging dong.”

Mama menungging dengan kedua tangan terikat di belakang. Kepalanya dijadikan penumpu di aspal agar tidak jatuh.

Mama menangis. “Apa pun yang kamu lakukan, cepati. Mama gak mau dipermalukan begini terus.”

Kuendus-endus anus dan memek Mama. Beraroma keringat. Badan Mama bergetar saat kujilat anus dan memeknya bergantian.

“Ah Mama semok begini, pantesan Pak Solihin doyan,” kataku sambil membenamkan wajah ke pantatnya.

Kuludahi anus dan memeknya, lalu kuratakan dengan jari. Memeknya sedikit berdenyut saat jariku menyentuhnya.

Kuturunkan celanaku. Kontolku tegak berdiri. Padahal pagi tadi aku sudah coli dua kali.

Zleeb.

Kepala kontolku masuk ke memeknya. Kedua paha Mama mengejang. Tangisan Mama makin jadi.

“Tega kamu Nak,” rintihnya.

Kugerakkan pinggangku maju mundur. Memek Mama agak sempit dan licin. Begitu kontolku menyentuh ujung memeknya, tiba-tiba memeknya berdenyut. Batang kontolku seperti dipijat.

“Ah enaknya Ma!”

Kutampar-tampar pantat Mama sampai merah sesuai goyanganku. Meski udara panas, tapi angin dari mobil-mobil yang melaju cukup mendinginkan badanku.

Beberapa mobil membunyikan klakson. Aku yakin mereka ingin berhenti dan menonton kami, tapi mustahil karena berhenti mendadak di jalan tol bisa fatal.

Kontolku terasa mau meledak.

“Aku mau keluar Ma!”

Crot!

Kontolku memuntahkan banyak pejuh ke dalam memeknya. Kubiarkan kontolku di dalam memeknya sampai semua pejuhku keluar.

Setelah gak ada pejuh yang keluar, kucabut batang kontolku. Memek Mama masih berdenyut-denyut seolah masih ingin dikentot.

Aku lepas perjaka juga di memek Mama.

“Yuk pulang ke rumah,” kataku sambil memakai celana. “Keburu ada yang laporin kita.”

Kubantu Mama berdiri. Ia terlihat lemas. Matanya sembab.

“Anak kurang ajar kamu,” ujarnya.

Kutarik pentilnya supaya mengikutiku.

“Mama sekarang budakku. Mau nurut apa mau aman?”

Mama diam saja. Tampaknya ia sudah mengerti posisinya.

Aku terus menarik pentil Mama sampai kami tiba di rumah lewat jalan belakang.

….

Meski udah bertahun-tahun, kejadian itu terasa seperti baru kemarin. Lucunya Ayah belum tahu kelakuan Mama meskipun warga kampung sini sudah sering membicarakan Mama. Mungkin karena Ayah yang jarang pulang karena harus mengurus kapal-kapal atau gak ada tetangga yang berani membicarakannya ke Ayah karena Mama adalah guru dan haji.

Sejak kejadian itu, Mama mengundurkan diri dari sekolah dan jadi ibu rumah tangga sepenuhnya. Ia jarang bergaul dengan tetangga karena malu dan menghabiskan waktu dengan bersih-bersih di rumah sambil telanjang.

Alarm smartphone-ku berbunyi.

“Ma, bentar lagi acara dimulai nih. Mama ganti baju dan dandan gih,” kataku.

“Tunggu bentar,” sahut Mama.

Ia masuk ke dalam kamar. Dua puluh menit kemudian dia keluar dan mengenakan pakaian gamis.

Aku menggeleng. “Ckckckkc Mama ini gimana. Kita ini mau datang ke reuni sekolah. Mama harus tampil spesial dong.”

“Tapi ini udah gamis Mama yang paling bagus,” kata Mama.

“Buka semuanya,” kataku.

Mama melepas pakaiannya. Jilbabnya pun juga dilepas. Ia cuma memakai sempaknya saja.

“Nah ini baru oke!” kataku sambil bertepuk tangan.

Kutarik pentil Mama. Ia mengerang kesakitan.

“Yuk kita jalan,” kataku sambil menarik pentilnya.

TAMAT

BOKEP INDO TERBARU

guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x